Kategori

September 25, 2022

SERU BERITA

Suara Rakyat

TERORIS BERBAJU DOKTER

2 min read
TERORIS BERBAJU DOKTER

Densus 88

Jakarta, SERUBERITA – “Berhenti!” Kata anggota Densus 88 kepada seorang tersangka teroris yang bernama Sunardi. Sunardi malah memacu gas mobilnya, ia zigzag dan menabrak mobil anggota Densus 88 yang menghalanginya. 2 orang anggota jatuh terpental. Karena melawan, Sunardi terpaksa ditembak ditempat. Dia tewas.

Baru belakangan kita tahu kalau Sunardi ternyata berprofesi dokter. Dan mulailah gelombang pembelaan kepada Sunardi dengan bahasa bahwa dia adalah dokter yang agamis, rendah hati, suka berbagi dan lainnya. Mulai politikus sampai polikucing mencaci maki Densus 88 karena dianggap sudah membunuh “orang baik”.

Sunardi sendiri adalah salah satu pimpinan tertinggi Jamaah Islamiyah, jaringan teroris global yang “pintar dan berbahaya”. Mereka dikenal mampu menyamar dan beradaptasi dgn sekitar. Ada yang jadi ustad, ada yang jadi pimpinan MUI dan tokoh agama (Ingat Farid Okbah)?.

Bahkan sekarang mrk bisa jadi politikus juga dgn menyusup ke partai-partai.

Yang saya heran adalah reaksi sebagian orang, yang menolak bahwa Sunardi yang dokter adalah seorang teroris. Padahal sudah banyak yang bergelar dokter dan doktor, terbukti adalah teroris yang berbahaya. Ingat Azahari ? Teroris yang ada dibalik bom Bali, bom Marriot dan banyak bom besar lainnya ? Bahkan seorang dokter di Bekasi pernah ditangkap karena bergabung dengan ISIS.

Saya sulit percaya bahwa ada orang-orang yang tidak bersyukur ketika Densus 88 berhasil mencegah aksi terorisme di Indonesia. Coba saya tanya, sudah berapa lama kita tidak mendengar bom bunuh diri di Indonesia ini ? Rasanya sudah lama. Terakhir yang saya ingat bom bunuh diri satu keluarga di Surabaya tahun 2018.

Dan sudah hampir 4 tahun ini, tidak lagi terdengar ada aksi bom bunuh diri. Kenapa? Apakah para teroris sudah tidak beraksi lagi?.

Bukan. Itu karena Densus 88 sudah melakukan pencegahan sebelum ada kasus baru lagi. Mereka bekerja disaat kita tidur, mereka menyusup ketika kita sedang bekerja, mereka mempertaruhkan nyawa ketika kita sedang sibuk bercinta.

Apakah ada yang memberi mereka apreasiasi ? Tepuk tangan ? Rasa hormat ? Tanda jasa ? Piala ? Tidak ada.  Banyak dari kita yang lupa, kalau keamanan dan kenyamanan yang kita nikmati sekarang ini berkat jasa mereka.

Bahkan ketika ada berita, “Densus 88 menangkap 53 teroris..” kita sudah tidak lagi tersentuh, karena itu sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

Densus 88 sudah menjadi penjahat dimata sebagian orang, karena mereka terlihat kejam. Sedang penjahat sebenarnya dipuja karena dia berpenampilan agamis dan dikabarkan suka berbagi. Terbalik memang. Kita sering dibutakan oleh tampilan sehingga tidak pernah berusaha waspada terhadap apa yang mereka kerjakan di belakang.

Saya tidak ingin melupakan, darimana keamanan dan kenyamanan yang saya dapat sekarang ini. Mungkin disinilah waktunya saya harus berterimakasih, mengangkat secangkir kopi, terimakasih saudara-saudaraku di Densus 88 yang sudah bekerja tanpa harus mencari nama.. Seruput kopinya..

Leave a Reply

Your email address will not be published.